Header Ads

Dua Hari Sebelum Pilkada, Politisi Golkar Ini Bongkar Strategi Pemenangan Ahok-Djarot







Kemenangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Syaiful Djarot Hidayat versi Quick Count dalam Pilkada DKI Jakarta, 15 Februari lalu mengejutkan banyak pihak. Padahal, dua hari sebelum pencoblosan, tingginya perolehan suara Ahok sudah diprediksi oleh tokoh muda dari Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia. Dia membongkar strategi pemenangan Ahok-Djarot untuk bisa mengalahkan dua kandidat lainnya.

Doli melihat hanya ada dua hal yang dapat memenangkan Ahok. Pertama, dengan pendekatan money bombing yaitu 'mengebom' atau menghamburkan uang secara besar-besaran.

Dengan dukungan dari para pengusaha kelas kakap yang mempunyai kepentingan 'komitmen bisnis' dengan Ahok selama ini dan yang akan datang, maka faktor modal finansial menjadi tidak masalah bagi Ahok dan tim suksesnya.

"Bila dihitung per kepala Rp 2 juta hingga Rp 3 juta rupiah seperti yang berkembang isunya di masyarakat, untuk Rp 1 juta pemilih saja jumlahnya Rp 3 triliun. Bagi para pengusaha yang terlibat, angka Rp 3 triliun itu masuk kategori kecil bila dibandingkan prospek hanya dari satu proyek reklamasi pantai utara saja. Jadi no problem bagi mereka sebagai tuannya Ahok untuk menggelontorkan angka sebesar itu guna upaya memenangkan," ujarnya, Senin (13/2) seperti dikutip republika.co.id

Kedua, lanjut Doli, Ahok dapat menang dengan pendekatan playing power. Ini menggunakan semua perangkat kekuasaan, baik pada level pusat maupun daerah. Doli mengatakan ada dua hal yang bisa dimainkan dengan cara ini.





Pertama, impor pemilih ilegal seperti yang sudah ramai belakangan ini.

"Secara tiba-tiba banyak bermunculan orang-orang bermata sipit berdatangan tanpa asal usul yang jelas. Berbarengan dengan itu, merebak pula kasus KTP-el palsu, kelebihan cetak kertas suara, hingga pemutakhiran DPT," paparnya.

Kedua, kata dia, sudah sangat terang benderang bagaimana pemerintah Jokowi berada di belakang Ahok dengan mengaktifkannya kembali sebagai gubernur sekalipun sudah menjadi terdakwa. Doli melihat selain ingin memberikan efek pengaruh kepada penyelenggara dan pemilih, pengaktifan kembali tersebut memberikan Ahok kembali kewenangan dan fasilitas yang bisa digunakan untuk memenangkan dirinya.

Melihat hasil quick count berbagai lembaga survey terpercaya, apa yang dibongkar Doli sepertinya mendekati kenyataan.



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.