Header Ads

Kalau Kita Berani, Mereka (Pendukung Ahok) Lebih Berani Lagi







Dari kemaren, lagi viral foto bocah tanggung, berjenis abegeh, yang sayang disayang kek nya belom ikutan nyoblos karena masih dibawah umur, dengan cueknya kasih isyarat jari 3,dikerumunan yang terkandung Ahok didalamnya. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ #terkandung.

Dari awal pas pertama kali mejeng ditime line saya, langsung saya save.  Soalnya fenomenal dan humanis banget,pasti ngetop.  Ehh, beneran ajah.

Jujur, itu ngingetin saya ama satu momen, yang saya NGALAMIN sendiri, saya jepret pake kamera HP saya yang oppo itu loohh ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ#pamer, di Stasiun Bekasi, sekitar jam 15-an, tanggal 11 Februari 2017, tepat disaat ratusan penumpang KRL peserta aksi 112 di Masjid Istiqlal yang sangat fenomenal.

Saat itu, ada dua orang perempuan, udah STW juga, pake baju kotak-kotak ahokers. Dan emang kabarnya di DKI hari itu ada jadwal kampanye akbar paslon 2. Perempuan satunya langsung ngacir ketoilet pas dia nyadar ada peserta aksi 112 turun dari kereta, sedang yang satu dengan cuek dan pede nya malah selfie-selfie pake kamera. Kontan para peserta aksi bersorak. Sempat ada kekhawatiran dihati saya kalau para penumpang bertindak anarkis karena ngeliat ketengilan tuh perempuan. Alhamdulillahnya engga,  mereka cuma rame-rame mengonggong. Jadi seru ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Dari sini saya mikir jauh kedalam,  negara kita ini dalam fenomena apa???  Kalaulah ada beberapa teman yang bilang kalo kita sedang dalam keadaan beragama yang genting, puncak ghozwul fikri yang amat mengerikan,  tapi saya anggap itu berlebihan, sekedar menenangkan hati.  Tapi emang bisa jadi kenyataan sekarang.

Fenomena perempuan distasiun, si blegug Iwan yang nantang TNI dengan sok-sok an,  sampe Hoak yang berani ngelunjak nge hina Al Quran, ini udah bukti betapa mereka udah KETERLALUAN, dan lebih terlalu lagi masih ada aja orang yang ngaku Islam, bahkan Mu'min enelan, masih menunjukkan sikap adem ayem sebagai sebuah KENETRALAN. Sejak kapan sikap tidak ikut berperan dalam kancah pertempuran modern yang menurut saya jauh membinasakan dibandingkan perang beradu senjata dimedan perang sebagai sebuah kenetralan.  Itu sikap Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya !!!! Apa yang dipelajari selama ini dalam kajian-kajian kalian selama ini ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ Segala puji dan perlindungan hanya kepada Allah sekalian alam.

"Dan apa yang menimpa kalian pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu” Pada hari itu, mereka lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. [Ali Imrรขn/3:166-167]"

Dan bagaimana kondisi kemunafikan di saat sekarang??





Bukhari, 72.55/6580. Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Washil Al Ahdab dari Abu Wa`il dari hudzaifah bin Yaman mengatakan; ‘kaum munafikin hari ini jauh lebih buruk daripada mereka yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab dahulu mereka sembunyi-sembunyi, namun sekarang mereka lakukan secara terang-terangan.’

Hemm, benarlah, musuh kita sekarang jauh lebih berat,karena kita boleh jadi berhadapan dengan pihak yang menampakkan keimanan padahal hati,ruh dan jiwa mereka penuh dengan kebencian.

Maka tak heran, bila keberanian kita untuk unjuk identitas kita dihadapan lawan, maka mereka jauh lebih berani lagi dengan kita.  Rasa takut telah dicabut dari dada-dada mereka. Jangankan rasa takut pada kita, takut pada Allah yang Maha saja mereka tidak ada.  Sebab mereka sudah demikian yakinnya, tau bagaimana bangunan umat Islam yang sebenernya. Dan akibatnya, kesombongan makin mereka tunjukkan dihadapan kita.

Sungguh sebuah ironi yang menakutkan. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Bila perjuangan kita saat ini menemui kekalahan, semoga Dia tidak menjadikannya sebagai kebinasaan. Agar jadi pelajaran berharga bagi keturunan kita didepan, orangtua mereka telah berjuang sampai titik daya penghabisan.  Dan itulah pembelaan terbaik kita dihadapan Tuhan di hari pembalasan. Wallahu alam.

Sri Suharni
Bekasi



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.