Header Ads

Masjid Al ‘Atiq: Kisah Si Pitung, Pangeran Jayakarta dan Jadi Korban Permainan Politik Ahok-Djarot







Kebetulankah Djarot Syaiful Hidayat hadir di Masjid Al ‘Atiq untuk sholat Jumat pada 14 April lalu? Menilik dari fakta-fakta yang berserakan sebelum dan setelah kejadian, kita bisa menduga dengan sangat kuat, peristiwa tersebut tidak by accident, namun by design (direncanakan). Terlebih jika melihat fakta sejarah Masjid Al ‘Atiq.

Djarot datang tanpa berkoordinasi lebih dulu dengan pengurus DKM maupun RT dan RW setempat. Tiba-tiba dia hadir dan masuk ke masjid untuk sholat Jumat. Bersamanya ada timses, wartawan dan polisi yang mengawalnya. Usai sholat dan zikir, jamaah yang baru menyadari keberadaan Djarot langsung memekikkan takbir tanpa ada kata “usir”. Kemudian muncul berita-berita di media arus utama yang memelintir kejadian tersebut.

Masjid Al ‘Atiq jadi sorotan. Jamaah dan pengurusnya dianggap intoleran. Sampai-sampai Presiden Jokowi pun angkat bicara soal ini. Strategi playing victim kembali mereka lakukan. Dan kali ini pilihan mereka adalah masjid tertua di Jakarta, yang dibangun Sultan Banten, pernah menjadi tempat persembunyian Si Pitung dan direnovasi oleh Pangeran Jayakarta. Nilai beritanya luar biasa bukan?

Mari kita simak kilasan sejarah Masjid Al ‘Atiq. Pada 1890, usai bertahun-tahun dipenjara oleh penjajah Belandfa, Si Pitung dan Ji’ih akhirnya berhasil kabur  dari penjara Meester Cornelis. Keduanya melarikan diri dengan menyusuri Kali Ciliwung hingga sampai di sebuah masjid  yang ada dipinggir kali tersebut untuk beristirahat dari kejaran kompeni.

Kedua sahabaqt itu bersembunyi berbulan-bulan lamanya. Itu terjadi karena ulama dan jamaah masjid mengetahui kabar soal kaburnya dua narapidana pribumi dari penjara Meester. Reputasi kedua jagoan itu sudah dikenal masyarakat setempat sehingga Pitung dan Ji’ih bisa bersembunyi lama.

Masjid yang sekarang berlokasi di Jalan Masjid I Rt 003 RW 01, Kampung Melayu Besar, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan itu bernama Al ‘Atiq. Masjid ini dibangun pada awal 1500-an Maulana Hasanuddin, Sultan Banten pertama yang pusat pemeiintahannya berada di daerah Banten Lama. Sultan Maulana Hasanuddin adalah putra Syarif Hidayatullah dari istiinya Ratu Kaurig Anten.

Berdirinya Masjid Al ‘Atiq konon bertepatan dengan berdirinya masjid yang berada di Banten dan Karang Ampel, Jawa Tengah, sehingga dikatakan sebagai cabang masjid yang didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin, namun, masjid tersebut merupakan bangunan yang terakhir penyelesaiannya.




Hal itu diperkuat dengan letak masjid yang berada si samping Kali Ciliwung. Pada masa dahulu sejumlah masjid yang memiliki nilai sejarah berada di tepi sungai.Kala itu, sungai sebagai alat transportasi paling efektif. Selain itu pada masanya masjid juga digunakan untuk menyusun strategi perlawanan.

Ada pula yang menyebut pembangunan masjid itu ada kaitannya dengan  Pangeran Jayakarta. Pada 1619, Pangeran Jayakarta dan pasukannya menyusuri Kali Ciliwung hendak menuju Batavia. Ia kemudian mendapati Masjid Al Atiq dalam keadaan menyedihkan dan nyaris roboh. Akhirnya ia pun membangun masjid itu bersama warga.
Tampak dalam Masjid Al 'Atiq


Awalnya Masjid Al-Atiq memiliki struktur kayu jati dengan empat sokoguru penopang atap. Empat sokoguru itu kini sudah diganti dengan pilar beton. Satu lagi komponen masjid yang hingga kini tetap dipertahankan adalah trisula masjid yang berada puncak menara masjid.

Tak heran jika  Gubernur DKI era 1970-an, Ali Sadikin memberi nama masjid  tersebut dengan nama Masjid Jami Al ‘Atiq yang artinya tertua. Dan Jumat lalu, masjid tertua sarat sejarah tersebut diduga sangat kuat coba dijadikan permainan politik Ahok-Djarot menjelang Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Dan itu terbukti dengan pelintiran berita menjurus fitnah kepada pengurus dan jamaahnya.

Jika Djarot mengatakan bahwa dia hadir di sana karena singgah tanpa direncanakan, tentu saja terkesan naif apalagi di tengah situasi politik Jakarta yang kian memanas. Bukankah tidak ada yang kebetulan dalam politik? Jika pun ada, kebetulan itu adalah sebuah kemewahan.  

Erwyn Kurniawan






Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.