Header Ads

Sertifikasi Khatib, Menag: Di Kristen dan Katholik Tidak Semua Orang Naik ke Atas Mimbar








Gagasan sertifikasi khatib yang sempat muncul kembali terlontar dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Menurutnya, ini harus dilakukan karena selama ini dengan mudahnya siapa saja boleh berceramah.

“Di Kristen dan Katolik, tidak semua orang bisa naik ke atas mimbar, hanya orang-orang tertentu yang dapat. Hanya di Masjid lah, asal punya keberanian, punya percaya diri tinggi, dapat berkutbah ,” ujar Lukman dalam  diskusi Mencegah Radikalisme dan Intoleransi bersama para rektor PTKIN di Hotel Sofyan Jakarta, seperti yang diberitakan mirajnews, Selasa (24/1) di Jakarta.

Sertifikasi lanjut Lukman, akan membuat khatib terseleksi dengan baik. Karena itu, ia berharap Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dapat mengkualifikasi atau merumuskan batas minimal kompetensi yang dimiliki khatib.






“Pemerintah tidak berpretensi bukan otoritatif untuk mengeluarkan (sertifikat) itu. Tapi, setidaknya publik mengetahui. Tapi dengan begitu, tidak semua dai dan mubalig bersertifikat. Biarlah publik yang menilai itu semua. Saya lebih senang, khatib yang bersertifikat, ” papar Lukman.

Lukman mengharapkan PTKIN mencoba merumuskan ide ini. Karena jika yang merumuskan dari pemerintah akan muncul persepsi membatasi seseorang menyebarluaskan agama.




23 komentar:

  1. siapa yang menerbitkan sertifikat khatib, kalau rasullullah yang menerbitkan saya setuju tapi kalau pemerintah melalui kaki tangannya saya tidak setuju, nanti bisa2 namanya khatib pesanan pemeritah. surga aja nggak jelas mau nentukan kelayakan khatib. edannnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya heran dengan si lukman ini,,,gak ada kerjaan lainnya apa??

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. apa2an ni pak menteri...kita ini islam knapa harus disamakan dengan khatolik n kristen....

    BalasHapus
  4. apa2an ni pak menteri...kita ini islam knapa harus disamakan dengan khatolik n kristen....

    BalasHapus
  5. Itulah akibatnya klo dalam pemerintahan di angkat sesuai pesanan gak penting ilmu agama yg dimiliki yg penting pendekatan

    BalasHapus
  6. Ada benar nya,,, tapi yg menyeleksi harus ulama yang benar2 ulama,,, bukan ulama abal2,,, bukan orang liberal atau orang syiah,,,

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Iya sih, biar kita belajar lebih banyak dan menggali tentang agama islam supaya Ke imananan kita kuat dan tidak terpengaruh oleh kaum radikalisme yang sekarang ini agama islam sedang di adu domba kan oleh orang yang tidak mengerti Agama,, ngaku nya muslim tapi mengumbar kedzoliman

    BalasHapus
  9. apa? sertifikat khatib.... ada-ada saja. jangan disamakan dengan agama lain pak, dan jangan tuduh sembarangan juga. yang naik mimbar itu sudah ditentukan dan sudah dianggap memenuhi syarat syar'i oleh pengurus masjid.

    BalasHapus
  10. Aya-aya wae sepertinya dunia sdh terbalik,ko dai peceramah hrs ada sertifikasi kayak guru n dosen ,koplak

    BalasHapus
  11. Karena menyangkut agama islam, maka yang memilih ada ulama2 tertinggi & imam besar, pemerintah gak ad urusan ny...
    Jadi besok2 yg khotbah di masjid adalah orang2 yg sudah lulus kualifikasi dr ulama2 tertinggi & imam besar...

    Di Kristen & Katolik udah dr dulu kayak gitu, mangkanya kotbahny gak ad yg sembarangan, provokasi, politik & pemerintahan gak ikut2...

    Yg komen gak setuju tuh sudah latah...
    Latah urusan keagamaan di bawa ke pemerintahan...
    Padahal kn ini pemilihan orang yg berdiri di atas mimbar, pemerintah mah ngapain ngikut2 ngatur yg mau khotbah siapa...
    Ya gak ada hubunganny lah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Di Kristen & Katolik udah dr dulu kayak gitu, mangkanya kotbahny gak ad yg sembarangan, provokasi, politik & pemerintahan gak ikut2..."
      Pfffff...gak ada kau bilang ?? Gak ada ?? Jangan pura2 gak tau..

      Itu karna segala hal yg salah di nagara ini yg disorot selalu islam..

      Hapus
  12. Hanya ada di zaman jokowiiiii....

    BalasHapus
  13. Tuch tuch...gini klu Menteri Agama gak pernah turun Da'wah..mau nasehati orang harus nunggu sertifikasi dulu,apa jadinya bos!!!! Yang agak nalar dikit donk!

    BalasHapus
  14. Apakah ulama itu sebuah profesi seperti dosen yang digaji oleh pemerintah? Dari dulu ulama itu tidak digaji pak, baik oleh pemerintah ataupun mesjid, kecuali mereka yang memang bekerja untuk pemerintah.
    Beda dengan pendeta atau pastor, mereka digaji oleh pihak gereja sehingga harus ikut pada system gereja.
    Sekarang ini umat yang butuh ulama, bukan ulama yang butuh pada umat. Ulama hanya wajib menyampaikan kebenaran, kalau ulama diminta urus sertifikat malah dipertanyakan ke-ulama-annya.

    BalasHapus
  15. Kalau sdh sertifikasi, akan dpt tunjangan dai sertifikasi.... nah, baru menarik...������

    BalasHapus
  16. Kalau sdh sertifikasi, dpt tunjangan sbg dai sertifikasi. Naah, itu baru menarik...😀😀😀

    BalasHapus
  17. besok-besok... utk jadi menteri harus bersertifikasi juga... termasuk atasannya...

    BalasHapus
  18. Intinya ini : sampaikan walau satu ayat..... Siapapun bisa memahami satu ayat saja menurut saya berhak saja naik mimbar jadi khatib..... Jgn dibatasi gimana pak menteri ini?

    BalasHapus
  19. Tidak semua memang, karena yang naik kemimbar adalah yang digaji...dari kolekte 10% jadi tolong jangan anda samakan dengan mereka...

    BalasHapus
  20. Nanti banyak masjid yg dibubarkan paksa karna khatibnya gak tersertifikasi.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.