Header Ads

Al Maidah: 51 dan Al Baqarah: 183 Diawali "Ya Ayyuhalladzina Aamanu", Apakah Ahoker Muslim akan Puasa Ramadhan?






Perintah puasa Ramadhan dan memilih pemimpin muslim dalam Al Qur'an diawali dengan kalimat yang sama yakni Yaa Ayyuhaldzina aamanu. Lalu bagaimana Ahoker muslim menyikapi Ramadhan? Apakah sama menafsirkan Al Baqarah: 183 dengan Al Maidah: 51?

Allah swt berfirman tentang puasa.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ
 مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {183}


Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Kemudian Allah swt berfirman tentang kewajiban muslim memilih pemimpin yang seaqidah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51)

Wahai oramg-orang yang beriman! Janganlah mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian); sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di anta­ra kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Firman-Nya: يأيها terdiri dari tiga kata, yaitu ياyang merupakan harf an- nidâ` (huruf untuk menyeru), أَيُّ yang merupakan isim yang berarti: mana saja, serta huruf ها harf at-tanbîh (huruf untuk memberi peringatan). Jika memperhatikan makna-makna penyusunnya, maka kalimat يأيها tidak cukup diartikan dengan wahai. Kalimat يأيها الذين آمنوا lebih lengkapnya bermakna: Wahai siapa saja orangnya yang telah beriman, perhatikanlah!





Ibnu Mas’ud radiallahutaala anhu mengatakan “idza sami’tallah yakulu ya ayyuhaladzi na’amanu fa’ar iha sam’a”. Apabila kamu mendengarkan didalam Alqur’an ada bacaan “Yaayyuhaladzi na’amanu” berhentilah, perhatikan dan fahami apa yang Allah inginkan dari bacaan tersebut.

Saat Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, banyak umat Islam yang "menolak" perintah Allah dalam Al Maidah: 51. Berbagai tafsir liar diungkapkan agar umat Islam boleh memilih Ahok. Pemilih Ahok pun banyak yang berasal dari kalangan Islam sehingga muncul istilah Ahoker Muslim.

Jika mereka menentang Al Maidah:51 yang secara jelas memerintahkan kewajiban menjadikan orang Islam sebagai pemimpin, seharusnya sikap serupa juga mereka lakukan terhadap perintah puasa Ramadhan dalam Al Baqarah: 183.

Namun bisa dipastikan, banyak Ahoker muslim yang memiliki standar ganda soal ini. Mereka pasti menerima perintah kewajiban menjalankan puasa Ramadhan dan tidak melakukan penolakan sebagaimana terhadap Al Maidah: 51 meski diawali dengan lafadz yang sama.

Begitulah jika hawa nafsu kita jadikan alat untuk menafsirkan firman Allah. Kita tidak konsisten dan hanya menggunakan ayat Allah yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan atau selera kita.

Wallahua'lam bishshowab.

Erwyn Kurniawan






2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.