Header Ads

Puasa Ramadhan: Sejarah dan Perbedaannya dengan Umat Terdahulu








Bulan Ramadhan sebentar lagi hadir. Umat Islam di seluruh dunia yang mengaku beriman,  Allah swt wajibkan untuk berpuasa satu bulan penuh lamanya. Mengapa ada puasa Ramadhan? Kapan kewajiban syariat ini diberikan Allah swt kepada hamnya yang beriman? Ternyata ada sejarah tersendiri terkait puasa Ramadhan ini.  

Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal, sejarah puasa Ramadan tidak muncul begitu saja. Sebelum Rasulullah SAW menerima perintah puasa Ramadhan, beliau telah melaksanakan puasa Asyura dan puasa tiga hari setiap bulannya. Allah swt akhirnya mewajibkan puasa Ramadan pada 10 Sya’ban, satu setengah tahun setelah umat Islam hijrah ke Madinah. Ketika itu, Nabi Muhammad baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmaqdis (Yerusalem) ke Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.

Saat itu, puasa Ramadhan dimulai ketika menyaksikan bulan pada awal bulan tersebut. Apabila langit dalam keadaan berawan yang mengakibatkan bulan tak dapat dilihat dan disaksikan, bulan Sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari. Kewajiban puasa sebulan penuh pada Ramadan baru dimulai pada tahun kedua Hijriah.

Dalam riwayat lain, sebelum turunnya perintah puasa Ramadhan, Rasulullah bersama sahabat-sahabatnya serta kaum Muslimin melaksanakan puasa pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Qomariyah. Selain itu, mereka juga biasa berpuasa tanggal 10 Muharam, sampai datang perintah puasa wajib di bulan Ramadhan. Perintah puasa Ramadhan ini didasarkan pada firman Allah SWT yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Al-Baqarah: 183)

Berdasarkan penjelasan di atas, tampaklah bahwa puasa Asyura tak ada hubungannya dengan peringatan wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib yang biasa diperingati oleh penganut Syiah. Namun demikian, sebagian umat Islam termasuk di Indonesia ada yang rutin melaksanakan puasa Asyura.





Dalam surat Al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa diwajibkan umat Islam berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelumnya agar umat Islam bertakwa. Mungkin terlintas di benak kita tentang bagaimana model puasa yang dilakukan umat Islam pertama kali? Apa yang membedakannya dengan puasa agama Ahli kitab?

Persamaan puasa umat Islam dengan umat-umat terdahulu adalah dalam hal kewajiban, bukan pada tata caranya. Ada beberapa bentuk puasa sebelum kehadiran Rasulullah saw.

Umat Nasrani dahulu juga pernah diwajibkan puasa Ramadhan, tetapi mereka menambahnya 10 hari hingga akhirnya berjumlah 40 hari. Dikarenaka pada bulan Ramadhan cuacanya sangat panas, waktunya pun diperpendek dan dipindah pada musim semi.

Dan umat Yahudi pun juga berpuasa, bahkan puasanya tidak sekadar menahan dari makan dan minum dari sore hari sampai waktu sore lagi. Mereka melaksanakan sambil berbaring di atas pasir dan debu sambil meratap sedih.

Pada masa Jahiliyah, penduduk Quraisy Mekah melaksanakan puasa pada bulan Asyura dan Rasulullah saw melakukannya sebelum ada perintah berpuasa di bulan Ramadhan, namun setelah ada perintah puasa di bulan Ramadan SAW, Nabi pun berpuasa dan meninggalkan puasa di bulan Asyura.

Sedangkan yang membedakan puasa umat Islam dengan umat yang lain di antaranya adalah adanya perintah makan sahur sebelum terbit fajar. Di dalam hadis riwayat Amr bin Ash, Rasulullah saw bersabda, “Perbedaan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah pada makan sahur…” (HR Muslim)

Selain itu, puasa yang dilakukan kaum muslimin pada bulan Ramadan berlangsung selama satu bulan penuh, berbeda dengan ahli kitab yang melaksanakan puasa di luar bulan Ramadhan. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “…Sungguh, telah datang bulan Ramadhan, bulan yang diberkati. Allah telah memerintahkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya…” (HR Ahmad dan Nasa’i)







Diberdayakan oleh Blogger.